Filsuf Jerman Martin Heidegger pernah menyatakan, “Jika Anda tidak mampu berpikir secara jernih, maka Anda tidak mempunyai hak untuk bertindak.” Pernyataan ini kembali relevan di tengah derasnya arus informasi, opini instan, dan keputusan cepat yang kerap diambil tanpa pertimbangan mendalam.
Dalam kerangka filsafat Heidegger, berpikir bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan upaya memahami keberadaan (being) secara sungguh-sungguh. Berpikir jernih berarti menyadari konteks, konsekuensi, serta makna dari setiap tindakan yang diambil. Tanpa kejernihan berpikir, tindakan manusia berisiko menjadi reaktif, sembrono, dan kehilangan tanggung jawab etis.
Heidegger mengkritik kecenderungan manusia modern yang terlalu mengandalkan kecepatan dan efisiensi, namun melupakan refleksi. Dalam situasi seperti ini, tindakan sering kali didorong oleh emosi sesaat, tekanan sosial, atau kepentingan praktis, bukan oleh pemahaman yang matang. Akibatnya, keputusan yang diambil justru dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Pernyataan tersebut bukan berarti melarang manusia bertindak, melainkan mengingatkan bahwa setiap tindakan seharusnya lahir dari proses berpikir yang sadar dan bertanggung jawab. Berpikir jernih menjadi prasyarat etis, agar tindakan tidak sekadar melakukan, tetapi juga memaknai.
Di tengah tantangan sosial, politik, dan teknologi saat ini, pesan Heidegger mengajak publik untuk melambat sejenak, merenung, dan mempertanyakan, apakah tindakan yang diambil benar-benar didasari pemahaman, atau hanya sekadar reaksi. Dengan demikian, berpikir jernih bukan hanya kebutuhan filosofis, tetapi juga fondasi penting bagi kehidupan bersama yang lebih bijaksana.












