Religius

Sholat Tarawih Sendiri di Rumah? Begini Hukum, Niat, dan Tata Caranya

7
×

Sholat Tarawih Sendiri di Rumah? Begini Hukum, Niat, dan Tata Caranya

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi umat Muslim sedang melaksanakan ibadah sholat sunnah tarawih.

Bandung, zonajabar.com – Bulan Ramadan membawa berkah tersendiri bagi umat Islam, di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Di antara ibadah istimewa yang hanya ada di bulan ini adalah sholat tarawih, sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Meskipun umumnya dilakukan berjamaah di masjid, banyak muslim yang memilih atau terpaksa melaksanakannya sendiri di rumah karena berbagai alasan seperti pekerjaan, kondisi kesehatan, atau jarak. Pertanyaannya, bagaimana hukum melaksanakan sholat tarawih secara mandiri, dan apa saja ketentuan yang harus diperhatikan?

Dari sisi syariat, sholat tarawih hukumnya sunnah muakkadah, artinya sunnah yang sangat dianjurkan. Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Fiqhul Islami wa Adillatuhu, sholat berjamaah dalam tarawih merupakan sunnah kifayah, yang artinya jika sebagian masyarakat sudah melaksanakannya di masjid, maka kewajiban kolektif tersebut sudah terpenuhi. Bagi individu yang memilih mengerjakan sendiri di rumah, hukumnya tetap sah dan tetap mendapatkan pahala qiyamul lail. Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab juga menegaskan bahwa sholat tarawih boleh dikerjakan secara berjamaah maupun sendiri. Praktik ini sejalan dengan tradisi awal Rasulullah SAW yang mengerjakan sholat malam di masjid hanya pada beberapa malam, lalu melanjutkannya di rumah karena khawatir umatnya akan menganggapnya sebagai kewajiban fardu.

Keutamaan sholat tarawih begitu besar sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa barang siapa yang melaksanakan sholat malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Meskipun sholat berjamaah di masjid memiliki keutamaan pahala hingga 27 derajat dan ada janji pahala sholat semalam suntuk bagi yang mengikuti imam hingga selesai, melaksanakan tarawih sendiri di rumah bukanlah pilihan yang kalah nilai, terutama bagi yang memiliki hambatan atau perempuan yang merasa lebih khusyuk beribadah di rumah.

Bagi yang akan melaksanakan sholat tarawih secara munfarid, niat menjadi landasan utama. Niat sholat tarawih sendiri yang dibaca dalam hati saat takbiratul ihram adalah:

“Ushalli sunnatat tarawihi rak’atayni mustaqbilal qiblati ada’an lillahi ta’ala.”

Artinya: Saya niat sholat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.

Niat ini cukup diletakkan dalam hati, meskipun melafalkannya secara lisan dapat membantu kemantapan hati.

Tata cara pelaksanaan sholat tarawih sendiri pada dasarnya sama dengan sholat sunnah pada umumnya, hanya saja tidak ada seruan bilal dan jeda jamaah antar rakaat seperti di masjid. Sholat dimulai dengan takbiratul ihram disertai niat, dilanjutkan dengan membaca doa iftitah, surat Al-Fatihah yang wajib dibaca setiap rakaat, dan disunnahkan membaca surat pendek Al-Qur’an seperti Al-Ikhlas atau Al-Kafirun. Setelah itu dilanjutkan dengan ruku, i’tidal, sujud dua kali dengan ketenangan atau thuma’ninah, kemudian duduk di antara dua sujud sebelum sujud kedua. Setiap dua rakaat diakhiri dengan tasyahud akhir dan salam.

Fleksibilitas dalam jumlah rakaat menjadi ciri khas sholat tarawih. Terdapat beberapa pilihan yang semuanya memiliki dasar kuat dalam syariat. Formasi 8 rakaat dilakukan dengan salam setiap 2 rakaat sebanyak 4 kali, yang merupakan praktik berdasarkan hadits Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah sholat malam lebih dari 11 rakaat, baik di dalam maupun di luar Ramadan. Sementara itu, tradisi 20 rakaat dengan salam setiap 2 rakaat sebanyak 10 kali merupakan pendapat mayoritas ulama dari empat madzhab dan merupakan kesepakatan para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Ada juga yang melaksanakan formasi 4-4-3 rakaat, di mana 4 rakaat dikerjakan sekali salam, kemudian 4 rakaat lagi sekali salam, dan ditutup dengan witir 3 rakaat.

Waktu pelaksanaan sholat tarawih dimulai setelah sholat Isya hingga sebelum waktu subuh tiba, meskipun lebih dianjurkan untuk tidak menundanya terlalu lama agar tidak tertidur sebelum melaksanakannya. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian rakaat tarawih, sangat dianjurkan untuk menutupnya dengan sholat witir. Sholat witir berfungsi sebagai pengganjal jumlah rakaat sholat malam dan bisa dilaksanakan minimal 1 rakaat, atau lebih seperti 3 rakaat maupun 5 rakaat.

Agar sholat tarawih di rumah tetap khusyuk dan bermakna, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan. Pastikan sudah berwudhu dengan sempurna dan mengenakan pakaian yang bersih serta menutup aurat. Pilih tempat yang tenang, matikan televisi atau suara yang dapat mengganggu konsentrasi, dan ciptakan suasana yang mendukung kekhusyukan. Jaga niat dan keikhlasan agar sholat dilakukan semata-mata untuk Allah SWT, bukan hanya karena kebiasaan atau formalitas. Manfaatkan momen setelah sholat untuk berdzikir dan berdoa, karena doa di malam Ramadan sangat mustajab.

Melaksanakan sholat tarawih sendiri di rumah bukanlah pilihan yang lebih rendah nilainya dibanding berjamaah di masjid. Bagi wanita atau mereka yang memiliki uzur, sholat di rumah bahkan dipandang sangat baik untuk menjaga privasi dan ketenangan. Kitab Al-Umm karya Imam Syafi’i menyebutkan bahwa sholat sunnah secara umum lebih baik dilakukan di rumah agar tidak timbul rasa riya. Yang terpenting bukanlah di mana sholat dilaksanakan, melainkan bagaimana kualitas pelaksanaannya. Sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Mughni Al-Muhtaj, yang utama dalam tarawih bukan sekadar banyaknya rakaat, melainkan nilai pengabdian kepada Allah melalui bacaan Al-Qur’an dan sujud yang panjang dengan ketenangan hati.

Ibadah di bulan Ramadan pada hakikatnya adalah tentang konsistensi dan keikhlasan hati. Melaksanakan sholat tarawih sendiri di rumah bukan penghalang untuk meraih keberkahan malam-malam Ramadan. Selama dilakukan dengan tata cara yang benar dan niat yang tulus, pahala ibadah tetap terjaga di sisi Allah SWT. Bagi yang memiliki kesempatan, sholat berjamaah di masjid tetap lebih utama, namun bagi yang terpaksa atau memilih beribadah di rumah, tetap ada peluang untuk mendapatkan pahala besar dengan melaksanakannya secara ikhlas dan khusyuk.