Scroll untuk baca artikel
Pemerintahan

Badan Gizi Nasional Mulai Uji Coba Program Makan Bergizi Gratis dengan Konsep Prasmanan

206
×

Badan Gizi Nasional Mulai Uji Coba Program Makan Bergizi Gratis dengan Konsep Prasmanan

Sebarkan artikel ini
Suasana uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan di kelas, di mana para siswa didampingi petugas tampak antusias melayani dan menyajikan makanan secara langsung. (Foto: Istimewa)

Bandung, zonajabar.com – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi memulai uji coba pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menerapkan konsep prasmanan langsung di ruang kelas. Terinspirasi dari budaya sekolah di Jepang, langkah inovatif ini mulai diuji coba secara serentak pada 5 Oktober 2026 dengan melibatkan lebih dari 60 dapur umum.

Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan bahwa dalam skema baru ini, makanan disiapkan di dapur dan diantar dalam kondisi hangat ke ruang kelas untuk langsung disajikan kepada para siswa. Konsep prasmanan ini dinilai memberikan banyak keunggulan dibandingkan metode pengemasan konvensional.

“Makanan jadi lebih enak karena hangat, dan tentu saja lebih fresh (segar) karena tidak ada delay(tenggang) waktu yang panjang antara proses penyajian dan konsumsi,” ujar Sudaryono, dikutip dari unggahan akun Instagram @sudaru_sudaryono.

Selain menjaga cita rasa dan kualitas hidangan, penerapan sistem prasmanan ini juga bertujuan untuk menekan risiko kerusakan makanan yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan pada anak-anak. Dari laporan awal evaluasi di lapangan, tingkat kehabisan makanan di kalangan siswa tergolong sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa makanan yang disajikan lebih diminati, bahkan beberapa siswa dapat menambah porsi jika masih ada sisa, sehingga tingkat pemborosan makanan (food waste) dapat diminimalkan.

Tidak hanya berfokus pada aspek pemenuhan gizi dan kesehatan, konsep prasmanan ini juga dirancang memiliki fungsi edukasi yang kuat bagi para siswa. Sudaryono mengungkapkan bahwa pelaksanaan di lapangan membutuhkan sinergi dan pelatihan khusus, tidak hanya bagi para juru masak di dapur, tetapi juga bagi pihak sekolah.

Dalam praktiknya, para siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pelayanan makanan melalui sistem piket kelas, mirip dengan kebiasaan yang diterapkan di sekolah-sekolah di Jepang. Para siswa tampak antusias mengenakan atribut pelengkap seperti penutup kepala dan sarung tangan bersih saat menyajikan makanan kepada teman-teman sekelas mereka.

BGN berharap uji coba ekstensif ini mendapatkan dukungan luas dari berbagai pihak. Jika evaluasi terus menunjukkan hasil yang positif, BGN berencana memperluas penerapan konsep MBG dengan sistem prasmanan ini ke lebih banyak wilayah di Indonesia.