Scroll untuk baca artikel
Berita

Drama Akad Nikah di Mojokerto: Ketika Penghulu dan Fotografer Salah Paham, Berujung Damai dan Pelukan

144
×

Drama Akad Nikah di Mojokerto: Ketika Penghulu dan Fotografer Salah Paham, Berujung Damai dan Pelukan

Sebarkan artikel ini
Foto: Hasil tangkapan layar.

Mojokerto, zonajabar.com – Suasana khidmat sebuah prosesi akad nikah di Kabupaten Mojokerto mendadak berubah tegang dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Penyebabnya adalah perselisihan antara seorang penghulu dan fotografer pernikahan bernama Arnawi pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Insiden ini bermula ketika Arnawi menyampaikan permintaan dari pengantin wanita yang ingin keluar ruangan setelah prosesi akad selesai. Namun, penghulu yang bertugas rupanya salah menangkap maksud tersebut dan merasa tugasnya diatur-atur.

Emosi sempat memuncak di meja akad. Sang penghulu menegur sang fotografer dengan nada tinggi, bahkan menyebutnya tidak memahami adab serta ilmu agama. Video teguran ini lantas viral dan menuai beragam reaksi dari warganet, yang ramai-ramai membahas batas antara tradisi dokumentasi modern dan syarat sah sebuah akad nikah.

Tidak butuh waktu lama bagi kedua belah pihak untuk meredakan situasi. Setelah video tersebut viral dan menjadi sorotan publik, sang penghulu akhirnya mengambil langkah ksatria.

Secara terbuka, ia menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf kepada Arnawi. Ia mengakui bahwa ada miskomunikasi dan kekurangan dalam dirinya saat merespons situasi tersebut. Penghulu tersebut juga menganggap kejadian ini sebagai teguran sekaligus pelajaran berharga untuk memperbaiki diri dalam melayani masyarakat ke depannya.

“Saya mohon maaf kepada Mas Arnawi, saudara saya, memang kurang komunikasi… Ini adalah pengalaman saya yang akan bisa merubah diri saya,” ungkap sang penghulu dalam video klarifikasinya.

Pertikaian kecil ini pun ditutup dengan senyuman dan jabat tangan hangat antara sang penghulu dan Arnawi, membuktikan bahwa kesalahpahaman di balik lensa kamera dapat diselesaikan dengan kepala dingin.

Source: Pikiran Rakyat